Sajak Layangan

by azifah an'amillah

siang ini berbeda dari biasanya. tanpa angin maupun suara, hampa. layang-layang tidak lagi menari di langit. lihat! hanya ada jeratan senar di celah-celah ranting pepohonan.

sekarang aku mengerti bagaimana kerjanya. layang-layang terbang agar bisa merasakan kebebasan bersama angin. ia tinggi agar bisa melihat hamparan luas bumi. dan aku pun bawa layang-layang berlari kesana kemari agar ia tidak lupa bahwa apapun yang terjadi, aku akan selalu ada bersamanya.

lalu kini….

ada yang datang. kusebut ia dengan tuan merah. mungkin saat ini tuan merah sedang tidak tinggal diam. ia ricuhkan angin. ia putuskan senar. ia buat agar yang benar terlihat salah dan yang salah terlihat benar. begitu seterusnya.

aku hanya melihat dari kejauhan. perlahan kudekati, senar yang kuat kini menjadi lemah tak berdaya. ia biarkan senar terjerat di pepohonan. ia biarkan angin pergi tanpa menyapa. dan dirimu, layang-layang menangis.

“ini semua salahku. tidak seharusnya kubiarkan tuan merah mengganggumu. kamu boleh bilang aku tak berguna. tidak pantas untuk ada bersamamu. silahkan. tapi ada satu hal yang ingin kukatakan padamu: siapapun kamu, bagaimanapun kamu, apapun kamu, kamu adalah kamu. jangan pernah menghindar atau menjauh.”

“tapi………” seketika layang-layang bergerak. ia mulai menahan angin.

“sudah kukatakan. ini semua bukan salahmu. tunjukkan kekuatan dan keberanianmu. mungkin memang benar, bukan sekarang. tapi setidaknya, kamu tahu bahwa aku akan selalu ada bersamamu. maaf untuk ketidakpeduliaanku, sikap acuhku pada semua kekhawatiranmu. tidak akan kubiarkan ini terjadi lagi.”

***************************

bagaimana? bukankah aku egois? berlebihan? sifat burukku? merusak? menghancurkan?

terserah. setidaknya aku tidak akan berpura-pura untuk polos: seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

tanang saja. aku akan diam.

bukankah itu yang kamu mau?

Jatinangor, 11 Juni 2015
11.24 WIB