kedapetan MIE AYAM + terseok-seok dari monas – harmoni

by azifah an'amillah

30 juni 2013
MONAS!
Hari ini hari ahad. Kami berangkat dari rumah pukul 10.00 wib menuju busway kalideres. Aku kira gak akan seramai ini. Tapi ternyata! Oh tidak. Bagaimana nanti jika di monas ya? Ituyang aku pikirkan.
Kami menggunakan bis tujuan harmoni. Busway harmoni cukup besar. Hingga kami bingung maumenuggu bis di lorong keberapa. Awalnya kami mengantri di lorong menuju pulaugadung. 5 menit berlalu, bis pun datang. Tapi ketika kami masuk, ada ibu-ibu yang bertanya ke kondektur,”berhenti di monas gak mbak?”. “oh enggak bu, kalau mau yang bis di belakang.”
Mendengar hal itu aku sempat ragu. Kami berdiri di perbatasan paling depan tempat orang-orang menunggu datangnya bis. Aku berunding dengan tiffany dan dhiaang. Sambil berunding ternyata orang-orang dibelakang saling dorong mendorong layaknya zombie. Akhirnya aku menarik kedua temanku untuk beranjak pergi dari tempat tersebut. Pas ketika kami pergi, tiba-tiba mas-mas penjaga busway mengamuk. Memarahi para penumpang yang saling dorong mendorong hingga melebihi batas tempat orang-orang menunggu datangnya bis. Lebih tepatnya, mas tersebut mengarahkan amukannya ke orang yang tadi dibelakang kami, dan saat ini berada di posisi kami ketika menunggu bis di lorong pulau gadung.
“haha aalhamdulillah ya kigta udah ngibrit duluan”
Kami pindh kelorong tengah, yang katanya disitulah bis yang akan berhenti di halte monas. 5 menit, 10 ment, 15 menit, 40 menit. Yah kira-kira selama itu. Dan tadaaaaaa……
Bis pun datang. Oh ternyata bis gandeng. Bis yang digabungkan dengan sesuatu seperti pipet.
“wah bisnya kosong tuh! Ayok2 biar dapat tempat!”
Laki-laki, perempuan, ahhh udah gakm jelas tuh dorong-dorongannya. Pintu depan bis sudah dibuka. Mereka yang mengantri di lorong tepat depan pintu bis depan sudah dapat memasuki bis.
“eh kok pintu tengah gak dibuka-buka ya?” teriak sebagian dari kami yang mengantri di lorong tepat di depan pintu tengah bis. Aku rasa emosi sudah tidak dapt dikendalikan lagi. Ditambah dengan suhu pananya yang menyebabkan keringat bercucuran. Aku hanya bisa tertawa. “ya alloh, ini luar biasa sekalI! Benar-benar diuji!” hingga akhirnya pintu tengah bis dinuka. Tapi jelas saja, akibat keterlambatan dibukanya pintu tengah bis, tempat duduk sudah penuh.
“masih ada kesempatan!” ujarku.
That’s right. Aku, tiffany, dan dhiaang, udah gak jelas lagi mau berdiri dimana.
“terserah aja lah dimana, yang penting dapet!” batinku kuat. Alhamdulillah dapet juga. Walau kami harus berdiri tepat dibagian pipetnya, dan rasanya oksigen tuh susah banget buat dihirup. Macam kompetisi perebutan oksigen saja! Apalagi kami bertiga berdiri diantara cowok-cowok, dan entahlah. Saat itu aku hanya bisa menunduk, berusaha mengumpulkan oksigen.
Jalanan macet. Ya, itulah jakarta. Dari harmoni ke monas saja memakan waktu hampir setengah jam. Padahal kalau dengan bis seharusnya bisa cepat.
Kami pun sampai pukul 13.15 wib. Kami pun berjalan menuju monas. Tidak lupa untuk ‘nyambi’ fotonya. Karena belum sholat, kami pun menuju masjid istiqlal. Ternyata jauh juga ya. Karena jauh dari monas, kami pun memutuskan untuk i’tikaf sembari menuggu azan ashar. Di masjid, aku membaca berita bahwasannya ada jakarnaval plus ulangtahun bhayangkara yang nantinya akan meramaikan monas. Tak berpikir jauh, padahal akan terjadi sesuatu yang sangat tidak dapat aku duga. Well, aku dan dhiaang pun tertidur pulas. Menanti adzan ashar.
Adzan berkumandang. Banyak pengunjung luar kota yang datang ke masjid istiqlal. “Ramai sekali”
Selesai sholat, kami pun makan mie ayam depan masjid istiqlal. Tiba-tiba ada seorang ibu datang menghampiri kami.
“mie nya enak mbak?” tanya ibu itu.
“enak kok bu.” Jawabku tersipu-sipu.
“ibu ikut makan disini ya mbak, gak enak kalau sendirian.”
Jujur aku kaget. Perasaan suudzon pun datang. Tapi apa boleh buat. Mudah-mudahan gak papa.
“oiya, silakan bu.”
Ibu itu memesan mie ayam. Dan mie kami pun melahap mie ayam. Hmmmm enaknya. Jelas! Namanya lapar apa si yang gak enak?
Ibu itu duduk disampingku sambil menunggu mie ayam pesananya. 3 menit kemudian pesanan datang. Lalu ibu itu pun berkata.
“weleh padahal tadi saya sudah bilang kalau porsinya setengah saja. Ini mah banyak banget. Gimana ya mbak, ini sebagian buat mbak aja.” Sambil menyodorkan mie ayamnya kepadaku.
“loh bu, makan aja. Kuat-kuat. Hehehe.” Ada kesan memaksa. Wah ibu, bisa-bisanya mau makan setengah porsi saja. Batinku.
“gak papa mbak. Ini daripada mubazir.”kembali menyodorkan ke arahku.
Aku pun menoleh ke tiffany. Memberi isayarat seakan-akan berkata,”kamu aja fan yang ambil.” Eh fany malah bilang,”enggak bu, ini mie nya udah kebanyakan.”
“udahlah mbak, ambil aja yaaa.”
Oke baiklah.
Ibu itu menuangkan sebagian mie nya ke mangkukku yang hampir habis. Dan kini, ke mbali penuh. Aduuhh bu, kapan saya langsingnya? Alhamdulillah, rejeki itu gak kemana. Walau hanya setengah mangkuk, tapi rasanya luar biasa. Istilahnya tombokan gratis. Selesai makan, sang ibu berbagi cerita dan penglaman. Pengalaman pergi keluar negeri dengan modal ‘kenal satu orang’ di negara tempat beliau hendak berkunjung. Kata ibu tsb, asalkan kita kenal satu orang sja, kita bisa travelling dengan biaya murah.
Tak hanya itu, sang ibu juga bercerita tentang keluarganya dan pengalaman ibu ketika beliau suka ikut bergabung dengan pengamen kereta. Beliau bilang kalau ketika itu penumpang banyak yang request dengan mengaji. Bi itu pun mengaji. Aku akui, suaranya memang bagus. Dan bla bla, cerita cukup lama.
“Terimakasih ya bu, kami pamit dulu. Assalaamu’alaikum.”
Dari istiqlal menuju monas. Tujuan kami selanjutnya melihat monorail. Pameran gratis yang saat ini bertujuan untuk memperkenalkan masyarakat jakarta yang akan dijalankan pada tahun 2017. Salah satu solusi yang akan mengurangi kemacetan.
Et bentar. Antriannya panjang banget. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Kalau mau antre, mau pulang jam berapa kita? Hmmmm, akhirnya kami hanya bisa mengintip dari luar, membayangkan bagaimana fasilitas di dalam monorail tersebut. Kami pun keluar monas, tepat di depan stasiun gambir. Sebelum menuju busway gambir, aku mengajak tiffany dan dhiaang untuk ke kamar kecil. Khawatir jika terjadi sesuatu. Kembali ke monas, mencari truk toilet. Cukup memakan waktu hingga tak terasa sudah pukul 17.30 wib.
Kami menuju busway gambir. Oh tidak! Ternyata busway ditutup! Ada apa ya? Jalan disekitar monas ditutup. Entah busway mana saja yang ditutup. Ups! Masih ada solusi, tenang-tenang.
Kami menghampiri satpam depan stasiun gambir. Menanyakan apakah ada kereta menuju stasiun tangerang.
“oh, disini gak ada dek. Eh kok dek sih. Ya udah lah gak papa. Iya kalau mau tangerang, dari stasiun juanda aja.” Kata pak satpam. Duh duh pak, pake ragu segala kalau kita memang masih adek-adek.
Semakin ragu. Kekhawatiran mulai terlintas. Apalagi dhiaang, yang kubilang masih anak kecil, raut mukanya sudah menunjukkan pertanda yang tak enak.
“mudah-mudahan busway monas buka. Udah yuk jalan aja kesana.” Semangatku.
Perjalanan kami menuju busway monas udah berasa layaknya thawaf. Karena kami merasa apa yang kami lewati seakan-akan sama. Mengelilingi monas. Jauh! Melewati 2 pintu masuk monas. Jalanan rame! Orang-orang semakin banyak yang datang mengunjungi monas. Sepertinya ada jokowi.
Akhirnya sampai juga di busway monas. Tapiiiiiiii…………..
Apa? Busway juga ditutup. Bahkan bis transjakarta terlihat berderet dan diam di jalan tanpa adanya penumpang. Apa maksudnya ini? Adzan pun berkumandang. Pikiran kacau. Wajah kumel. Aku penat melihat tiffany yang sama sekali tidak memberikan solusi, dan dhiaang yang mendadak rewel karena khawatir tak bisa pulang. Ibunya dan ayahnya yang ditelpon berkali-kali tak kunjung menjawab.
“jadi kita ditelantarin?”
Hmmmmmmmmmmmmm……….. di trotoar sambil termenung. Langit sudah gelap. Lampu jalanan begitu remang-remang. Lapar dan haus. Memikirkan berbagai solusi yang bisa diambil. Sebenarnya, ada busway yang pasti dibuka. Busway harmoni, busway transit kami menuju monas. Tapi jaraknya cukup jauh. Dan ketika angkot lewat, aku pun bertanya kepada sang supir angkot.
“pak, lewat busway harmoni?”
“ohh enggak mbak.”
Pupus sudah. Semakin malas untuk bertindak. Dhiaang semakin rewel.
“mbak ani, kita pulangnya gimana?”
Sang kakak tiffany menjawab,”mbak juga bingung.”
Gregetan! Bisa-bisanya dia menjawab begitu. Itu malah bikin anak kecil semakin khawatir.
“bisa aang. Ayok kita cari jalan biar bisa pulang!” aku menarik dhiaang dan tiffany mengikuti dari belakang. Kami menyebrang menuju salah satu bis transjakarta yang berada di deretan paling belakang dari seluruh trangjakarta yang berjejer di sekitar busway monas.
“mbak, busway daerah sini yang buka dimana ya?” tanyaku kepada seorang perempuan yang mengenakan pakaian pekerja bis transjakarta.
“harmoni mbak.”
“kalau dibanding busway istiqlal, deketan mana?”
“mending harmoni aja mbak.”
“oh ya udah, makasih ya mbak.”
Kami pun berjalan menuju busway harmoni. Dengan bermodalkan “ada Alloh” kami berjalan menuju busway harmoni.
“oh god! Ini jalan udah kayak orang kelayapan malam-malam cuman buat nyari busway dan pulang. Luar biasa!” sedikit menghibur diri.
Yah walaupun begitu, masih ada yang lebih kuat. Ada seorang ibu bersama tiga orang anaknya. Ibu tersebut bertanya kepada kami,”ini arah ke harmoni kan mbak?”
“iya bu.” Serempak kami menjawab.
Ibu itu berjalan cepat sekali. Beliau membawa sandalnya, dalam artian agar tidak membuatnya pegal di kaki. Kami hanya bisa menggelengkan kepala. Betapa kuatnya ibu itu, menyemangati anak-anaknya pula. Aku aja yang masih muda udah luntang luntung gara-gara capek jalan terus.
Alhamdulillah sampai juga di harmoni. Raut muka kami yang memelas, capek, dan campur aduk, akhirnya bisa tersenyum melihat bis menuju kalideres. Kami pun pulaaaaannngggg… horeee!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.