Biologist and Astronomer

" ketika kau jatuh maka kau harus bangun kembali "

Pesan Terusan

Anak-anakku sayang,  sekarang kamu telah bertumbuh dari remaja menuju dewasa. Insya Allah Ayah dan Ibumu berjuang untuk memberikan bekal ilmu dan pendidikan  terbaik untukmu. Gunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Belajarlah yang giat dan tekun. Ingatlah bahwa pendidikan ini adalah bekal untu mengarungi kehidupan kelak di dunia dan persiapan menuju akhirat. Janganlah kau sia-siakan waktu untuk menimba ilmu pe getahuan.

Anak-anakku, Ayah dan ibu tidak punya hak menentukan masa depanmu. Kamu sendirilah yang menentukan kamu mau jadi apa nanti. Ayah dan Ibu  hanya berpesan pilihlah masa depanmu sesuai dengan keinginan hatimu. Mau jadi pengawai, mau jadi wiraswastawan, mau jadi seniman, atau mau jadi apapun lakukanlah semuanyan dengan hati yang tulus sehingga memberikan hasil yang maksimal. Ayah dan Ibumu berpesan apapun profesimu nanti harus sesuai dengan rambu-rambu agamu, dinul islam.

Ayah dan Ibumu berpesan jalankan syariat agamu, jangan lupakan sholat, zakat, puasa dan  haji jika mampu. Dan jangan menyekutukan Allah dengan mendewakan atau mengagung-agungkan kekayaan, jabatan dan yang lainnya. Harta dan kekayaan itu tidak kekal adanya.

Ayah dan Ibumu berpesan jangan lupakan melakukan infaq, sedekah dan zakat. Di dalam harta yang kamu miliki ada hak kaum fakir dan miskin. Jangan banyak berpikir kalau mau berinfaq dan sedekah. Yakinlah amal inilah yang nantinya akan menemanimu di alam kubur dan akhirat nanti.

Ayah dan ibumu tidak mengharapkan imbalan apapun darimu. Ayah dan Ibumu selalu berdoa semoga kamu semua menjadi anak yang sholeh. Anak yang berbakti kepada orang tuanya dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Mudah2an ini menjadi bekal perjalanan hidupmu. Dari Ayah dan Ibumu.

Ayah Irfan dan Ibunda Yayu🙂

Kelak pesan ini akan kuteruskan untuk anak-anakku

Penyakit Bernama Rindu

Ada sebuah penyakit yang namanya tidak tercantum dalam kamus kedokteran. Kusebut ia dengan rindu. Mungkin banyak yang dapat mengungkapkan dengan mudah, bagaimana penyakit ini bekerja. Bagaimana rindu, menjangkit di syaraf dan mengalir bersama aliran pembuluh darah. Namun rindu, bagiku ia menjelma sedemikian rupa – mengabaikan lelah, mengacaukan pikiran hingga memadamkan rasa.

Pada akhirnya, saat rasa dan pikiran mengelak, maka tubuh akan menyerap energi rindu. Energi yang berlebih menjadikan tubuh terekspresi dengan ragam cara seperti demam misalnya. Suhu tubuh rendah dan tinggi secara tak beraturan, lidah tidak pahit juga tidak manis, badan lemas dan hanya mampu bersandar di alas tidur, dan mata hanya berharap melihat manis wajahnya. Sedangkan pikiran menyela dengan argumen-argumen konyolnya. Berkata mungkin ini karena masuk angin, atau mungkin juga karena kurang vitamin. Begitu pula dengan rasa yang tidak mau kalah, meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Padahal kamu tahu betul bahwa aku sedang tidak baik-baik.

Maka inikah yang disebut-sebut sebagai penyakit bernama rindu?

Semoga rindu, tidak melulu menjadi penyakit yang di elu-elukan. Rindu ada, karena kita yang meramunya, dan kita pula yang menjadi penawarnya. Maka sebaik-baik penawar adalah mengungkapkannya: jujur pada diri sendiri dan berdoa. Sampai sekarang, belum ada yang lebih mujarab dari itu.

Kebumen, 10 Juli 2016
21.15 wib

Perempuan Pendiam

Untuk perempuan yang tiba-tiba saja menjadi pendiam.

Ketauhilah bahwa mungkin dirimu sedang dilanda galau hebat dan kamu lebih memilih diam. Atau mungkin saja kamu akan mengalami suatu kejadian besar sehingga sekarang kamu lebih memilih untuk diam sejenak. Atau kamu belakangan ini memikirkan perencanaan masa depan dan lagi-lagi kamu memilih diam.

Benar, sekarang kamu benar-benar diam dan mungkin itu yang terbaik. Meski pernah terucap beberapa kata dan itu menyakitkan orang lain, maka diamlah.

Kamu yang menjadi diam dengannya, tanpa banyak kata, tanpa banyak tatap. Seakan diam adalah cara bicaramu dengannya. Semoga dia tidak membenci diam mu itu.

Perempuan pendiam,
Tetaplah ceria.
Seperti itu.
Kamu yang kusuka.

Jatinangor, 19 Mei 2016
10.57 wib

Kamu mahasiswa tingkat akhir?

Saat ini saya sedang berada di tingkat akhir sebagai mahasiswa. Seperti yang kita ketahui bahwa kewajiban sebagai mahasiswa harus dituntaskan: skripsi.

maka ketika kamu memasuki duni tingkat akhir, persiapkan segala bentuk mental dan fisik untuk membentengi dirimu dari berbagai hal yang mungkin akan terjadi. Saya sebagai mahasiswa tingkat akhir di era 2016, akan berbagi cerita tentang dilema mahasiswa tingkat akhir. cerita ini diambil dari pengalaman teman-teman kampus dan juga saya sendiri.

 

Judul tugas akhir. Memasuki tingkat akhir, kamu akan dihadapi dengan kegalauan tema penelitian yang akan kamu kerjakan. berbagai hal harus dipikirkan dengan matang terkait efisiensi waktu, lokasi, dana, dosen pembimbimbing, dan manfaat kedepannya. belum lagi ketika banyak dari dosen menawarkanmu berbagai proyek penelitian untuk tugas akhir. antara ga enakan, ingin hemat biaya, dan suka tidaknya kamu dengan proyekan tersebut. atau ada juga yang memilih tugas akhir yang ingin menghasilkan produk atau memilih penelitian yang sulit/belum pernah dilakukan oleh mahasiswa mana pun meski akan mengeluarkan banyak biaya dan waktu.

Dosen. Bersiaplah untuk menjadi buronan dosen. Dosen yang membimbing tugas akhir akan berusaha semaksimal mungkin untuk meluluskan mahasiswanya meski banyaknya kerjaan dan kesibukan tidak hanya untuk membimbing dirimu. Meski revisian masih saja dipegang oleh dosen, ketika kamu tidak sengaja bertemu dengannya, dosen pasti akan menyapamu-salah satu trik untuk membuatmu lebih bersabar menunggu revisian. atau bisa juga, ketika kamu bertemu dengan dosen, beliau akan bercakap lebih dulu dan memberitahumu,”revisiannya nanti ya.” padahal karna kamu sendiri sudah lupa kalau ada revisian yang musti kamu tunggu. Ada juga kisah mahasiswa yang ‘ditahan’ agar tidak mudah lulus. Alasannya bisa jadi karena kamu berpotensi sehingga menjadi aset untuk membantu segala bentuk pekerjaan dari dan untuk beliau. Kamu termasuk mahasiswa tersebut?

Makan. semakin kamu menduduki tingkat akhir, semakin banyak jumlah konsumsi yang masuk kedalam perutmu dan semakin tidak beraturan. Segala macam aci dari cilok, cireng, cimo, cibuy hingga cipuk dan cilung. Meski banyaknya makan bukan menjadi patokan bahwa berat badan akan bertambah.  Kalau Saya sih, berat badan tidak dapat dipungkiri.

Games. Daripada resah mikirin dosbing, mending nge games! DOTA, COC, dan piano tiles menjadi pilihan para mahasiswa-mahasiswi di tahun saya.

Film/Drama. Pastikan di laptop kamu tidak ada koleksi film/drama. Sejumlah film dan drama-drama yang bikin baper justru menambah kebaperanmu dalam mengerjakan skripsi.

Jalan-jalan. kegiatan ini akan kamu lakukan demi melampiaskan rasa lelahmu menunggu datangnya revisian atau bapernya kamu terhadap dosen pembimbing. Nongkrong, hunting, dan weekend justru tidak kalah padatnya dengan hari-hari biasa.

Kesendirian. “lelah, pengen nikah aja.” satu kalimat itu pasti akan sering terdengar dan terucapkan dari teman-temanmu. Rasanya menikah adalah hal yang paling indah. Daripada capek-capek jadi buronan dosen, mending nikah aja. Begitu bukan?  Hati-hati, itu hanyalah satu dari seribu bentuk jenis kebaperanmu saat mengerjakan skripsi.

Wirausaha. Banyaknya waktu luang saat tingkat akhir, menjadikanmu ingin memiliki penghasilan sendiri. Mengisi waktu luang saat menunggu revisian atau mungkin lebih asik jualan daripada ngetik-ngetik di laptop. Ya siap-siap saja, ini adalah salah satu godaan yang mengasyikkan.

Akses Internet. Semakin cepat akses internet yang kamu miliki, semakin lama ketik-mengetikmu. Ingat ya, akses internet berbanding terbalik dengan kecepatan lulusmu. Mau saran? download jurnal dan artikel di kampus yang ber wifi, pulang ke kos baru baca-baca apa yang kamu download tadi. Selama di kampus, tertawalah karena kamu dikelilingi oleh teman-teman yang mencintaimu.

 

Bagaimana? Ada yang ingin ditambahkan?

Pastikan setelah ini kamu tetap ber-DUIT: Doa, Usaha, Ikhlas, Tawakal

dan pesan tambahan dari ayah saya: berikan senyuman terindahmu karena kamu dikelillingi oleh orang-orang yang dicintai dan mencintaimu

Bagikan ceritamu sekarang!

Oiya, segera tuntaskan kewajibanmu sebagai mahasiswa ya nak ^^

 

.

di sini: gedung besar namun terasa penuh nan sesak.

bosan aku dengan penat, enyah saja kau pekat
-Rangga

 Sekian, sementara itu saja dulu.

Rumah kita, Mangrove

Mangrove Centre,

hari ini ada kisah menarik dari KOPMA (Kelompok Pelindung Mangrove) Perumahan Giri Indah-Balikpapan. Sebelum mencapai pintu depan mangrove centre, saya melewati perumahan bagus dengan jalan tiap gang nya diberi nama Jl. Mangrove.

Sambil menunggu perahu untuk mengelilingi hutan mangrove, saya mengobrol asik dengan pengelola hutan mangrove. Saya akui bahwa masyarakat disini begitu baik mau menyanyangi Mangrove meski pihak-pihak yang berwenang kurang begitu memperhatikan.  Masyarakat rajin membuat proposal mencari dana sana-sini untuk pemeliharaan hutan Mangrove. Mangrove centre dijaga dengan baik oleh masyarakat sekitar. Hal ini disadari masyarakat karena saat kayu-kayu mangrove di eksploitasi di masa itu, terjadi angin puting beliung dan menerbangkan atap-atap rumah. Sehingga masyarakat berfikir bahwa Magrove memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Masyarakat mulai menanam kembali bibit-bibit mangrove dan kini stelah 15 tahun, rawa sudah dipenuhi dengan pohon-pohon mangrove. Perlindungan sumber daya alam di hutan mangrove dijaga dengan baik oleh masyarakat. Meskipun bukan hal yang lumrah jika masih ditemukan tangan-tangan jail yang menebang kayu untuk kebutuhan industri, membuka lahan, dan membolongi pipa-pipa air. Balikpapan, kata ayah saya, adalah kota miskin air bersih.

Jenis-jenis mangrove didominasi oleh jenis dari marga Rhizopora, Avicenia, dan Soneratia. Hewannya pun bermacam-macam dari ikan kakap bakau (merah, hitam, putih), kepiting bakau, berang-berang, biawak, kingfisher, cuncak rowo, renggang, burung bangau, dan bekantan. Bahkan terkadang sering ditemukan lumba-lumba terdampar, berenang hinga hulu dan sampai ke pinggiran daratan Mangrove. Pernah diceritakan bahwa ada seekor lumba-lumba yang hampir setiap harinya bolak-balik ke hulu, katanya ini terkait emosional ibu lumba-lumba yang pernah kehilangan anaknya mati di daratan Mangrove. Sejam menyelusuri sungai Zomber, rasanya belum puas menikmati keindahan perilaku hewan-hewan penghuni Mangrove. Bekantan sebagai maskot, adalah monyet terganteng yang sangat disukai. Populasinya sekitar 450 individu. Makanannya adalah buah dari Soneratia. Badannya yang berat dapat mematahkan cabang-cabang pohon Mangrove.

Banyak dari peneliti luar rutin berkunjung ke Mangrove Centre. Menginap di camp hingga berbulan-bulan, membagi ilmu dan pendidikan terkait keanekaragaman flora dan fauna disana kepada KOPMA, dan jujur saja hal ini membuat saya malu sebagai generasi peneliti Indonesia.

Semoga air dan hijaunya pohon Mangrove akan selalu terjaga dan menjaga.

Rumah kita,


Balikpapan, 3 April 2016
16.39 wita

Suka Duka Etnobiologi

halo semua,

kali ini saya akan membagi cerita seputar pengalaman saya sebagai pegiat etnobiologi. sudah pernah mendengar tentang  etnobiologi?

Etnobiologi dapat diartikan sebagai evaluasi ilmiah tentang pengetahuan penduduk pribumi mengenai dunia biologi. Biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Semua aktivitas etnobiologi sangat bergantung dengan pengetahuan masyarakat lokal. adapun metode yang pokok dilakukan adalah wawancara. sehingga tidak heran jika banyak orang akan nyeletuk berbicara seperti ini,”hanya dengan wawancara, kamu bisa jadikan itu sebuah penelitian? hanya dengan wawancara kamu bisa lulus S1?enak ya…”

Jujur saja, dulu saya juga berpikir begitu. Selain mudah, waktu yang terpakai pun sangat efisien. tapi ternyata, yang saya bayangkan tidak 100% benar. banyak sekali suka duka yang cukup unik dan mengesankan di dunia etnobiologi ini, dan saya boleh bilang bahwa saya ketagihan!

Lokasi/Adat. pengetahuan yang masih kental dan terjaga oleh penduduk pribumi, tentunya berada di suatu daerah yang masih jauh dari modernisasi. lokasi yang jauh dari kota, sungkan dengan orang asing, dan yang paling penting adaptasi diri kita dengan lokasi tersebut. misalkan air keruh, kamar mandi terbuka, jalan bebatuan, tidak ada sinyal, makan harus berburu, pakaian keseharian, keikutsertaan ritual, dan hal-hal yang mungkin tidak biasa ditemukan di daerah tempat tinggal kita.

Bahasa. Indonesia dengan 17.508 pulau, memiliki lebih dari 700 bahasa, dan dengan logat yang tiap bahasanya pun berbeda-beda. bayangkan saja jika kita diposisikan di sebuah lokasi penelitian dengan bahasa yang benar-benar pedalaman. pastikan kita punya guide terpercaya. meskipun begitu, adanya guide sangat memungkinkan ‘mengganggu’ saat wawancara dengan responden maupun informan. adanya sifat mengganggu tersebut dapat mempengaruhi data hasil wawancara. jadi, pastikan untuk briefing guide terlebih dahulu agar guide berlaku selayaknya guide.

Wawancara. perlu diketahui bahwa wancara dengan penduduk lokal sangatlah tidak mudah. apalagi berlama-lama wawancara demi menggali informasi yang lebih dalam. memosisikam diri sebagai orang yang asik diajak mengobrol adalah hal yang sangat penting. faktanya, banyak orang yang tidak senang diwawancara. ada juga yang ngacangin, atau kalau pewawancara adalah perempuan dan yang diwawancarai adalah bapak-bapak: maka persiapkanlah mental kita. kenapa? tahan dengan candaan dan sabar dengan godaan/jailan yang mungkin sedikit ‘menggelikan’. belum lagi jika responden adalah perokok. bayangkan jika setiap hari kita wawancara lebih dengan 10 rensponden. itu berarti kita setiap harinya menghisap lebih dari 10 rokok dengan berbagai merek. kenyang bukan? bagaimana jika responden justru asik dengan rokoknya. apa perlu kita merokok juga? jawab saja sendiri. yang pasti semuanya pernah saya alami.

bagi responden yang terbuka dengan orang asing, maka bersyukurlah. selain informasi yang didapat menjadi lebih mudah, sudah pasti makanan kita dapatkan disana. belum lagi jika diakhir, ada secercah doa yang dipanjatkan untuk kita. malaikat pas lewat dan wussshhhh~biasanya doa orang sesepuh itu maqbul ^^

diakhir pamit dengan responden, jangan lupa selipkan kalimat,”terimakasih banyak pak, saya doakan bapak/ibu sehat. doa untuk saya juga ya pak/bu.” dan tunggu saja, beragam balasan doa akan dikirim untuk kita.

Evaluasi. sebagai seorang ilmuwan, evaluasi diperlukan sebagai bentuk kroscek dari hasil wawancara dengan studi yang ada di lapangan. dan caranya pun bermacam-macam. misal bagi yang studi tentang tumbuhan atau hewan di hutan, maka pergilah kita jelajahi hutan. ataupun studi tentang ikan di laut, maka pergilah kita memancing ke laut. nikmatilah tiap penjelajahan anda!

Laporan. kalau biasanya anak sains bikin pembahasan dari hasil pengamatan atau itung2an, kalau etnobiologi ga cuman pengamatan tapi juga bikin narasi. Iya, nulis panjang lebar dan berparagraf-paragraf: menulis dengan sangat detail. Lihat saja, kebanyakan dari orang-orang etnobiologi adalah orang yang suka bercerita.


Maka etnobiologi bukan hanya tentang wawancara. It’s about social and science. sosial iya, ilmiah iya. leha-leha ngobrol dengan masyarakat iya, itung-itungan pakai rumus juga iya. dan saya suka! ini menarik dan juga menantang. menambah relasi, menjalin silaturahim, dan menabung doa-doa.

 

Salam dari Mahasiswa pegiat etnobiologi🙂
Doakan lancar ya…..

Balikpapan, 1 April 2016
21.51 WITA

 

Kapuk (Ceiba petandra Linn)

Deskripsi Tinggi mencapai 60 m. Akar tersebar secara horizontal. Diameter batang mencapai 200-240 cm. Daun alternate dengan 5–9–15 leaflets, obovate-elliptical, (3.5–5–21cm × (1–)2–6.5cm, pangkal cuneate, ujung acuminate, entire atau kadang sedikit bergigi ditepi. Bunga kalikscampanulate, 9–15mm × 11–14mm, lobus membundar hampir acute, dalamnya berambut, petal menyatu pada pangkal, pink- creamy-yellow or white. Buah pendulous, oblong-ellipsoid kapsul 7.5–30(–60) cm × 3–15cm, membentuk 5 katup (‘shells’), terdapat banyak biji. Biji hampir bulat, diameter 4–6 mm, berbulu, coklat gelap atau hitam, menempel pada serat yang biasa disebut serat kapuk[2].

Organ Beracun Daun mengandung jenis kimia alkaloids, flavonoids, glycosides, saponins, tannins dan terpenoids[3]. Ekstrak methanolic pada batang mampu mematikan (LD50) dengan dosis lebih dari 5000mg/kg[6]. Bungkil biji kapuk yang mengandung siklopropinoid[9].

Kandungan Fitokimia Analisis fitokimia Ceiba pentandra menunjukkan adanya komponen aktif  alkaloids, flavonoids, glycosides, saponins, tannins and terpenoids. Beberapa zat tersebut menyebabkan anti-nutrien seperti phenols (99.64±0.153mg/g), tannins (5.32±0.197mg/g), fitat (0.35±0.043mg/g), oxalates (0.086±0.023mg/g), cyanogenic glycoside (0.045±0.007mg/g) yang akan mengurangi dalam mencerna makanan. Asam tanin dapat mengurangi keefektifan pada enzim pencernaan[3]. Siklopropinoid bersifat dapat mengganggu sistem metabolisme tubuh unggas. Fitat menyebabkan saluran pencernaan tidak memiliki efek yang cukup besar pada penyerapan kalsium dan asam besi. Oksalat menyebabkan ternak sulit bernafas, terjadi depresi, sakit, koma dan kemudian mati.[9].

Manfaat Tumbuhan ini mampu menyembuhkan bronchitis, diabetics, diarrhoea, dysentery, penyakit kulit, arthritis, sakit mata, demam, gigitan serangga, diabetes, hypertension, headache, dizziness, constipation, mental diseases, fever, peptic ulcer dan leprosy[2]. Ekstrak batang dengan dosis 1000mg/kg dapat menjadi obat antidiarrhoeal[6]. Di Nigeria daun dimasak dalam bentuk saus bubur untuk pencahar. Rebusan kulit untuk kesuburan. Benih mengandung minyak digunakan sebagai minyak nabati di beberapa bagian negara[8]. Serat kapuk dapat digunakan sebagai sensor logam sehingga mampu menjadi parameter kualitas air[5]. Diproduksi Madu Randu yang telah diketahui mempunyai khasiat sangat baik bagi kesehatan[7]. Mempercepat pertumbuhan rambut dan mencegah kerontokan[1]. Pengganti bahan bakar dan bahan baku peledak[4].

Referensi
[1]
Achmad., et al. 1990. Flavonoid dan Fitomedika, Kegunaan dan Prospek, Phyto-Medika. Jakarta
[2]Elumalai., et al. 2012. A Review on Ceiba pentandra and its medicinal features. Asian J. Pharm 2 (3): 83-86
[3]Enechi., et al. 2013. Evaluation Of The Antinutrient Levels Of Ceiba Pentandra Leaves. International Journal of Research and Reviews in Pharmacy and Applied science 3 (3): 394-400
[4]Erlangga., et al. 2012. Pembuatan Nitroselulosa dari Kapas (Gossypium Sp.) dan Kapuk (Ceiba Pentandra) Melalui Reaksi Nitrasi. Jurnal Teknik Pomits 1 (1):1-6
[5]Mojica., et al. 2002. Fiber Of Kapok (Ceiba Pentandra) As Component Of a Metal Sensor For Lead In Water Samples. Philippine Journal of Crop Science 27(2): 37-42
[6]Njinga., et al. 2009. Phytochemical And Antidiarrhoeal Studies Of  The Stem Bark Of Ceiba Pentandra (Bombacaceae). Nigerian Journal of Pharmaceutical Sciences 8 (1): 143-148
[7]Parwata., et al. 2010. Aktivitas Antiradikal Bebas Serta Kadar Beta Karoten Pada Madu Randu (Ceiba Pentandra) Dan Madu Kelengkeng (Nephelium Longata l.). Jurnal Kimia 4 (1): 54-62

Peduli Mangrove: LSM Indonesia dalam Konservasi Tumbuhan

 

Negara Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas dunia menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang tidak ternilai harganya. Selama ini lebih dari 6000 spesies flora dan fauna telah dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat. Begitu juga dengan kekayaan Indonesia terkait spesies tumbuhan mangrove. Mangrove di Indonesia merupakan salah satu kawasan terluas di dunia dengan tingginya keanekaragaman hayati serta strukturnya yang paling bervariasi di dunia. Luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan sekitar 4,25 juta ha (sekitar 27 % luas hutan mangrove dunia).

Mangrove merupakan ekosistem yang menempati formasi pada wilayah peralihan (ekoton) antara darat dan laut. Fungsi dan manfaat mangrove telah banyak diketahui, baik sebagai tempat pemijahan ikan-ikan di perairan, pelindung daratan dari abrasi oleh ombak, pelindung daratan dari tiupan angin, penyaring intrusi air laut ke daratan dan kadungan logam berat yang berbahaya bagi kehidupan, tempat singgah migrasi burung, dan sebagai habitat satwa liar serta manfaat langsung lainnya bagi manusia.

Memasuki abad ke-21, Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut berpartisipasi dalam globalisasi. Tuntutan ekonomi, pembangunan, maupun teknologi secara tidak langsung telah memberikan pengaruh yang cukup besar bagi kelangsungan hidup organisme. Pada hakikatnya akal yang dimiliki mampu memberikan kemudahan dalam beradaptasi. Berbeda halnya dengan makhluk hidup lainnya seperti flora dan fauna. Pembangunan besar-besaran menyebabkan hilangnya habitat flora maupun fauna sehingga keberadaannya pun dipertanyakan.

Konservasi berarti menjamin kelestarian pemanfaatan untuk generasi kini maupun generasi mendatang, memelihara sumber daya agar kebutuhan dan aspirasi generasi mendatang dapat tercukupi. Menurut Elisa (2010), konservasi keanekaragaman hayati diperlukan karena pemanfaatan sumber daya hayati untuk berbagai keperluan secara tidak seimbang akan menyebabkan makin langkanya beberapa jenis flora dan fauna karena kehilangan habitatnya, kerusakan ekosisitem dan menipisnya plasma nutfah. Hal ini harus dicegah agar kekayaan hayati di Indonesia masih dapat menopang kehidupan.

Walaupun banyak manusia yang serakah dan apatis dengan kehidupan organisme lainnya, masih ada yang dengan tegas peduli dan terus menegakkan pentingnya memelihara lingkungan. Penyuluhan dan kampanye kepada masyarakat terkait perlindungan habitat sebagai tempat hidup organisme, pemeliharaan lingkungan, merupakan upaya-upaya yang dilakukan akan pentingnya konservasi. Sekumpulan manusia inilah yang nantinya akan berdiri dan membentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM).

LSM merupakan organisasi masyarakat yang beraktivitas atas motivasi dan swadaya yang bangkit dari kesadaran terhadap keadaan sosial di masyarakat. Selain itu, mereka tidak mengharapkan imbalan namun imbalan yang paling berharga adalah penghargaan atas martabat kemanusiaannya serta diakui sebagai manusia yang beridentitas. Oleh sebab itu, keberadaan LSM dalam membangun keswadayaan atau partisipasi masyarakat terhadap program-program pembangunan bukanlah sesuatu ucapan semata namun sudah terbukti ke dalam tindakan-tindakan konkrit yang dilakukan oleh LSM. Disamping itu, LSM dapat bergerak secara lentur atau fleksibel karena tidak adanya beban birokrasi yang berlebihan serta mampu mengakomodasi inisiatif-inisiatif lapisan bawah (Prasetyoningtyas, 2010).

Peran LSM mampu menyikapi berbagai perubahan pendekatan pembangunan, salah satunya yaitu di sektor konservasi lingkungan. Pada umumnya LSM Indonesia merupakan organisasi nonprofit. Organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal di dalam menarik publik untuk suatu tujuan yang tidak komersial, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter). Tujuan organisasi nirlaba yaitu untuk membantu masyarakat luas yang tidak mampu khususnya dalam hal ekonomi.

Organisasi nirlaba pada prinsipnya adalah alat untuk mencapai tujuan (aktualisasi filosofi) dari sekelompok orang yang memilikinya. Karena itu bukan tidak mungkin diantara lembaga yang satu dengan yang lain memiliki filosofi (pandangan hidup) yang berbeda, maka operasionalisasi dari filosofi tersebut kemungkinan juga akan berbeda. Karena filosofi yang dimiliki organisasi nirlaba sangat tergantung dari sejarah yang pernah dilaluinya dan lingkungan poleksosbud (politik, ekonomi, sosial dan budaya) tempat organisasi nirlaba berada (Juli, 2013).

Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkecimpung dalam konservasi mangrove sudah banyak yan berdiri di Indonesia. Beberapa LSM mangrove di Indonesia: IMARF, keMANGTEER, dan GEMPAL telah mengadakan kegiatan terkait program perlindungan dan pelestarian mangrove seperti tanam bibit mangorove bersama masyarakat. Kepedulian masyarakat Indonesia terhadap mangrove, ekosistem yang terbilang unik ini, perlu dipertahankan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak bersangkutan.

 

REFERENSI

Buaithi, A. Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove.    http://komodo- park.com/images/downloads/Peranan_dan_Fungsi_Hutan_Mangrove_web.pd        f. Diakses 24 Juni 2015

Fandeli, C. 2014. Peran Dan Kedudukan Konservasi Hutan Dalam Pengembangan Ekowisata.                          Disampaikan Dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Kehutanan                     Universitas Gadjah Mada

Forda. 2014. Pengelolaan Hutan Mangrovehttp://www.forda-mof.org/files/RPI_4_Pengelolaan_Hutan_Mangrove.pdf. Diakses 24 Juni   2015

Sunarto. 2008. Peranan Ekologis Dan Antropogenis Ekosistem Hutan Mangorve. Fakultas                       Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Sajak Epik: Etnobiologi Pahlawan Konservasi

Saat ini dunia sedang disibukkan dengan persaingan antar negara. Masuknya era globalisasi telah menuntut negara-negara dalam memajukan pembangunan khususnya ekonomi. Hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung pada akhirnya akan memberikan dampak yang besar bagi kelangsungan hidup organisme. Walaupun hakikatnya manusia sangat mudah beradaptasi namun hal ini tidak mudah bagi makhluk hidup lainnya seperti flora dan fauna. Pembangunan besar-besaran menyebabkan hilangnya habitat flora maupun fauna sehingga keberadaannya pun dipertanyakan. Salah satu negara yang ikut berpartisipasi adalah Indonesia.

Indonesia merupakan negara kaya akan budaya. Lebih dari 1100 suku budaya bangsa dapat ditemukan di Indonesia. Tiap suku memiliki pengetahuan lokal yang telah diberikan secara turun temurun dari leluhurnya. Pengetahuan tentang perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan alam merupakan bentuk penghormatan (rasa syukur) terhadap apa yang telah diberikan oleh sang Pencipta melalui kekayaan sumber daya alam. Ilmu pengetahuan inilah yang disebut sebagai etnobiologi.

Etnobiologi merupakan bidang disiplin ilmu yang sudah ada sejak zaman penjelajahan Columbus (1492-1620). Kajian etnobiologi tidak bekerja secara parsial namun holistik dari berbagai bidang ilmu yakni mengkaji aspek-aspek sistem sosial penduduk yang terintegrasi dengan sistem ekologi (Iskandar, 2014). Perkembangan ilmu ini dikatakan masih relatif baru. Adapun cabang-cabang etnobiologi antara lain yaitu etnobotani, etnozoologi, etnoekologi. Dalam hal ini, etnobotani merupakan cabang ilmu yang paling tua. Para ahli etnobiologi meyakini bahwa dengan bermodalkan pengetahuan masyarakat lokal seperti pengetahuan biologi telah mampu dan berhasil melindungi proses-proses ekologi secara potensial, melindungi aneka ragam spesies atau varietas flora dan fauna serta ekosistemnya untuk kepentingan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Di setiap suku memiliki caranya masing-masing dalam mengungkapkan bentuk penghormatannya terhadap alam. Seperti contoh di masyarakat suku Kasepuhan Ciptagelar, setiap tahunnya mengadakan upacara terbesar yaitu Seren Taun sebagai rasa syukur kepada sang Pencipta yang dipersonifikasikan sebgai Nyi Pohaci atas penjagaannya hingga hasil panen padi melimpah ruah. Menurut catatan data BKPD Jawa Barat (2014), terdapat lebih dari 125 jenis varietas padi lokal yang masih terpelihara di Ciptagelar. Ketaatan dalam mematuhi kalender pertanian, perlakuan saat pra menanam dan pasca panen, penggunaan pestisida nabati, pemanfaatan tumbuhan kacang-kacangan untuk menyuburkan tanah, hingga penyimpanan padi di lumbung padi (leuwit) yang mampu menyimpan padi hingga berumur ratusan tahun. Selain karena adat budaya cara bertani yang dipertahankan, tentunya secara etik hal ini menjadi bentuk perlindungan, pemeliharaan serta pemanfaatan tumbuhan yang secara berkelanjutan mampu berjalan dengan sangat baik.

Ada pula contoh sistem talun/kebun-talun yang hingga kini masih banyak dilestarikan di masyarakat pedesaan seperti beberapa daerah masyarakat Sunda. Sistem ini dikenal sebagai sistem perladangan yang berpindah-pindah atau sistem tebas bakar. Pengetahuan lokalnya dalam menggarap dan mengolah tanah telah mempertahankan kelestarian lingkungannya. Begitu juga dengan pemilihan introduksi tanaman yang menguntungkan bagi masyarakat tersebut namun tetap terjaga keanekaragaman tumbuhannya. Hal ini memberikan keuntungan segi biologi dan ekonomi. Sehingga dengan keanekaragaman yang tinggi maka mempunyai stabilitas yang tinggi.

Kini para ahli sedang mengembangkan ilmu etnobiologi yang diadaptifkan dengan zaman modern seperti sekarang. Masyarakat lokal dengan pengetahuan turun temurunnya mampu menjadi tempat kembalinya ilmu pengetahuan dengan paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sosial, ekologi, maupun ekonomi berjalan dengan baik. Walaupun memang tidak akan berhasil secara sempurna atau ada salah satu yang harus dikorbankan, pengetahuan lokal menjadi cerminan di dunia etnobiologi. Pendapatan ekonomi yang bersifat subsisten, segala bentuk pantangan yang tetap dijaga, menjadikan keanekaragaman hayati terus bertahan sehingga upaya konservasi dapat berjalan dengan baik. Etnobiologi bagaikan pahlawan konservasi terutama di masa pembangunan yang semakin sengit ini.

 

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

 Dan bara kagum menjadi api

(Chairil Anwar-Pusi Dipenogoro, 1993)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.164 pengikut lainnya