Biologist and Astronomer

" ketika kau jatuh maka kau harus bangun kembali "

Menepati Janji

Malam jumat. Seperti biasa yasinan di masjid menjadi rutinitas di kampungku, selain sebagai doa dan wasilah untuk keluarganya yang sudah menjadi ahli kubur, rutinitas ini sekaligus sebagai silaturahim dan mengajarkan cara baca ayat-ayat quran yang baik dan benar. Aku, suamiku, dan Semi tentu ikut mengaji bersama. Ditemani dengan makanan gorengan kriuk sebagai penutup pertemuan kita.

Malam berlalu hingga memasuki dini hari. Malam-malam di Lembang saat ini memang lagi dingin-dinginnya. Saat perutku sakit karena menahan pipis atau katanya karena kandung kemihnya tersenggol janin, maka terus-terusan ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Belum lagi efek gorengan malam yang membuatku juga harus buang air besar. Sesekali, duakali, hingga tigakali. Batinku, beberpa kali terasa seperti kontraksi, tapi bisa jadi ini hanya sakit perut biasa. Saat subuh datang, rasa sakit perutnya makin menjadi-jadi. Sekarang aku yakin bahwa ini kontraksi akan melahirkan. Sedikit sering teratur dan rutin tapi tidak sesakit saat kontraksinya anak pertamaku. Setelah melaksanakan sholat subuh, aku terngingang-ngiang oleh janji yang telah kubuat dengan anakku, bahwa aku akan mengkhatamkan quranku sebelum anakku lahir. Entah mau disebut sedikit drama, saat itu juga aku meminta bantuan suamiku untuk membantu mengkhatamkan bacaanku yang kurang 3 juz lagi. Bagiku, janjiku dengan anakku ini, seolah-olah sudah seperti janjiku dengan Tuhanku yang wajib kutepati. Sambil kutahan rasa sakitnya gelombang cinta kontraksi, dengan posisi yang berubah-ubah dan berpindah-pindah, kurang lebih 40 menit kami mampu menyelesaikan 3 juz dan ditutup dengan bacaan doa khotmil quran olehku. Dan Semi, anakku yang pertama, ikut membersamai khataman kami.

Berjalannya waktu, memersiapkan tenaga dan mental, kuberi asupan kurma untuk diriku. Suamiku pun merebuskan telur ayam kampung dan juga madu. Sambil monda mandir, menhentakkan kaki, sujud, nungging, berbagai posisi kulakukan untuk mempercepat proses kontraksi dan tak lupa mengunyah makanan yang disiapkan. Yang jelas, kurma kuyakini sebagai asupan tenaga terbesar seperti yang pernah Maryam makan saat melahirkan nabi Isa as. Kemudian kuhitung interval waktu kontraksi. 5 menit sekali. Tapi belum juga datang flek yang katanya sebagai penanda bukaan. Kala itu , anak pertamaku ditandai dengan flek terlebih dahulu sebagai penanda sudah memasuki bukaan 5. Sedangkan anakku yang pertama masih sempat ku-empengi sebagai pengiring tidurnya. Begitu juga dengan diriku yang masih menyempatkan diri untuk memasak nasi dan juga memotong kuku. Ya karna hari itu hari Jumat. Waktunya bersuci.

Hingga pukul 9 pagi, aku memtuskan untuk meminta suamiku mengantarku ke puskesmas. Suamiku pun menyiapkan kendaraan. Semi yang masih tertidur, dan aku yang merasakan kontraksi, menunggu datangnya Suamiku. Sambil kutahan, aku memosisikan diriku sambil bersujud. Sambil kuucapkan shalawat nabi, tetiba rasa yang tak diduga datang. Meski tanpa flek, rasa ingin benar-benar mengejan secara alami ingin kulakukan. Dan aku tahu betul bahwa jika bukaan belum komplit maka mengejan tidak baik untuk dilakukan. Karena rasa yang tak tertahankan, sambil merangkak aku memanggil tetangga samping rumahku. Sejak itulah orang-orang disekitar rumah mulai panik mendatangi rumah dan menghampiriku. Tidak lama setelah itu suamiku datang. Aku semakin tak kuat. Batin dan pikiran merujuk akan melahirkan saat itu juga. Dengan tatapan tenang dan membuang rasa khawatirnya, suamiku meminta bantuan dua ibu-ibu untuk membantu membopongku ke kamar. Dan disitulah aku benar-benar merasa bahwa anakku sudah ingin keluar dan menemui bapak ibunya.

Beralaskan seadanya, matras alas kasur serta kardus, aku berbaring dan memosisikan diri untuk melahirkan. Suamiku menyiapkan diri sebagai paraji yang siap menampani bayinya. Dengan mengejan sekali, dua kali dan….. alhamdulillah, kudengar tangisannya. Isakan yang kencang dan juga haru. Lega rasanya. Bagiku, bayiku, dan juga suamiku. Sedangkan tetangga lainnya sibuk mencari dan menjemput bidan desa. Bayiku, mungkin hampir stengah jam diluar dan kedinginan. Lagi-lagi sambil diiringi doa dan shalawat agar bayiku tetap kuat. Sedangkan suamiku, benar-benar mengabaikan rasa getirnya.

Bidan pun datang. Dengan perlengkapan daruratnya, dengan cepat tali pusar dan plasenta diputus. Bayiku dibersihkan dan dihangatkan begitu juga dilanjutan dengan Inisiasi Menyusui Dini. Darah mengalir dimana-mana. Sedangkan jahitan tak perlu dilakukan karena alhamdulillah bayi dengan 3.5 kg aman keluar dengan lancar. Sedangkan bidan, antara terheran-heran dan juga sedikit mengomeliku karena nekat dan semuanya tau bahwa nyawa adalah taruhannya. Aku hanya bisa tersenyum. Mau bagaimana lagi, bagiku inilah pertolongan Tuhanku. Perjuangan dan janjiku, serta sugesti positif yang mulai kubangun bersama bayiku sejak dalam rahim adalah hal yang kuyakini benar adanya. Proses melahirkan yang kedua ini, menjadi ketakjuban tersendiri bagi orang-orang disekitarku. Banyak pelajaran yang kudapatkan. Meski sedikit ceroboh dan mungkin penuh drama, tapi terselubung makna luar biasa. Terutama untukku, suamiku, dan juga anak-anakku. Agar suatu saat mereka paham bahwa Alloh mendengar doa hambanya dan selalu punya renana yang terbaik untuk hambanya yang memohon.

Setiap bayi punya caranya masing-masing untuk bertemu dengan orang tuanya. Maka setiap Ibu punya caranya masing-masing pula untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan anak-anaknya. Pilihlah dan lakukan yang terbaik. Karena semangat seorang Ibu tidak akan pernah habis masa nya.

Lembang, 4 agustus 2018
23.52 wib

Iklan

Surat Pertama untukmu yang berSemi

Bersama langit purnama hari ini, ibumu akan menyampaikan sebuah surat kepadamu. Surat yang bisa jadi tidak ada artinya bagi yang membacanya tapi bermakna bagi yang merasakannya. Iya, aku dan kamu: anakku Semi.

Sejak dirimu hadir, hari-hari tak terasa berlalu begitu cepat. Dari haru bahagiaku mendengar tangisanmu, senyumku melihat ulahmu, tawaku melihat ocehanmu, hingga tangisku melihat sedihmu. Memasuki usia 3 bulanmu, kamu sudah menyadari bahwa dirimu tidak lagi menjadi yang ketiga. Kamu tahu bahwa akan ada seseorang lagi yang akan menyusulmu. Menjadi si kecil yang selanjutnya. Ketika ASI yang biasa kamu minum mulai tidak lagi banyak, atau bahkan rasanya yang tidak lagi selezat biasanya. Tapi kamu, tetap mendekatiku. Tetap mau dengan ASI mu yang tak seberapa. Dan ibu tahu, dari kecil kamu sudah belajar bagaimana rasa syukur itu. Dan saat itu juga, Ibumu benar-benar mengagumimu.

Bagaimana dengan kesedihan?
Ibu lebih paham bagaimana rasanya. Ketika keegoisanku sebagai seorang Ibu yang merintih sakit, lelah, dan pilu kehamilan sembari menyusui, kamu pun mulai mengeluarkan air mata begitu deras. Melihat bagaimana kamu menangis, Ibu semakin yakin bahwa tangisanmu bukanlah tangisan kesal. Kamu tahu bahwa kamu tidak bisa memaksa Ibumu untuk memenuhi kebutuhanmu karena kondisi Ibumu. Dan kamu ungkapkan perasan itu dengan caramu yaitu menangis. Lagi-lagi Ibumu melihatmu sebagai sosok yang amat mengagumkan.

Sampai usia 6 bulanmu, kamu mulai mengenal makanan selain ASI. Bahagiaku melihat bagaimana dirimu begitu lahap menyantap makanan pertamamu. Bahkan dengan makanan-makanan selanjutnya. Meski Ibu tahu, sebagian besar karna faktor kandungan temulawak yang ada pada minumanmu. Iya, saat itu tangisanmu semakin terasa karna ASI mu benar-benar berkurang dan Ibu mulai mencari alternatif minuman pengganti ASI. Sayangnya, tubuhmu tak bisa menerima segala macam susu ASI dan susu kedelai pun jauh rasanya dari lezatnya ASI. Maka hampir sebulan Ibu mencari susu yang bisa diterima oleh tubuhmu. Selama itu pula Ibu berikan dirimu air madu untuk bayi. Benar, sedih rasanya melihat bagaimana dirimu menatap ASI mu, sedangkan kamu tidak lagi bisa menikmatinya seperti saat kamu lahir di dunia. Begitu juga dengan kamu yang mungkin hanya bisa menikmati MPASI apa adanya, tidak seperti teman-temanmu yang bisa dibuatkan makanan bergizi penuh sesuai anjuran para ahli. Sedangkan Ibumu, karena tidak lagi sanggup melakukan banyak hal berat meski itu sekadar membuatkan nasi tim. Bahkan di usia 7-8 bulanmu, amu sudah mampu memakan nasi yang dihaluskan dengan tangan Ibumu. Ya lagi-lagi Ibu tahu betul bahwa kamu sedang berusaha untuk tidak membuat Ibumu kelelahan. Kamu berhasil membuat ibumu kagum.

Saat kamu asik dengan mainan pertamamu, meniup seruling kecil, saat itu juga Ibumu melihat bagaimana kamu cepat sekali menangkap apa yang kamu lihat dan diajarkan. Perlahan tapi pasti, Ibu pun semakin yakin bahwa kelak kamu akan menjadi kakak yang teladan, kakak yang patut menjadi panutan serta contoh yang baik untuk adik-adiknya.

ASI mu mulai hilang dan benar-benar tidak berproduksi. Tapi kamu tetap saja ingin berada didekatku meski kamu tahu kamu tidk akan kenyang dengan cara seperti itu. Sekadar mengempeng hingga lelah dan akhirnya tertidur. Ibu tahu, inilah sebagian duniamu yang membuatmu merasa aman dan nyaman. Meski Ibumu juga tahu bahwa membiarkanmu mengempeng sama saja dengan membiarkan perutku sejenak terasa sakit. Meski begitu juga, Ibu akan membiarkan calon adikmu merasakan kehadiran kakaknya yang nantinya akan menemaninya dengan penuh kasih sayang.

Semakin kamu tumbuh dan mengenal salam sapa orang-orang disekitarmu, Ibu memanfaatkan hal itu untuk sesekali membuat waktu menyendiri. Bagi Ibumu, saat itulah terkadang Ibu biarkan kamu bermain dengan tetangga sebelah kita. Ibu lakukan itu untuk sejenak rehat tak mendengar tangismu. Dan ya, itu juga bentuk keegoisan Ibumu. Membuatmu bermain bersama yang lain dan kamu menyukainya. Mungkin bisa jadi kamu lebih suka bersama tetangga kita dibanding bersama Ibu. Saat itu Ibu abaikan perasaan itu. Toh kamu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Tapi halnya, kini justru mulai terlihat gelagatmu atau bahkan Ibumu sendiri yang berprasangka tidak-tidak.

Menginjak di usiamu yang sebentar lagi setahun dan calon adikmu yang kini akan hadir diantara kita. Ibu menatapmu dengan cara yang berbeda. Ibu mulai belajar tentang kehadiranmu yang masih sendiri. Dan disaat-saat dekat ini, entah kenapa rasa sayang Ibu semakin melimpah. Tawamu, tangisanmu, ulahmu, ocehanmu, tingkahmu, Ibu anggap itu semua hari-hari terindah bersamamu sebelum adikmu lahir. Maka, sebagai Ibu yang banyak egoisnya, kali ini ada sebuah keegoisan terakhir yang Ibu harap kamu menerimanya. Nikmati hari-hari kebersamaan kita, seperti layaknya menyaksikan indahnya malam purnama. Terima Ibu apa adanya, karena Ibu bukanlah Ibu yang sempurna kasih sayangnya. Tetaplah menjadi anak yang mampu mengajarkan Ibu tentang sabar dan syukur. Dan terakhir, terimakasih karena telah tumbuh menjadi anak baik dan terlahir sebagai anak Ibu.

Dengan julukanmu, Semi, semoga dirimu dapat selalu memberikan kebahagiaan bagi orang-orang disekitarmu. Sebagaimana saat daun-daun dan pohon berSemi dengan indahnya.

Tertanda,
Ibumu yang tak sempurna,
Bune

Lembang 27 Juli 2018

Paripurna Cinta Ramadhan

Ramadhan tahun ini, 1439 H, tak kusangka akan menjadi hari-hari yang begitu berkesan. Jika tahun sebelumnya, aku melalui ramadhan dengan berpuasa sembari mengandung, kini kembali bertemu ramadhan dengan menyusui anak pertamaku yang berusia 9m+ sembari menggendong janin yang berusia 7m+. Maka lengkap sudah hari-hari ramadhanku dengan nikmat dan cinta yang sungguh-sungguh “berkesan” itu.

Banyak hal kejadian yang kualami saat-saat hari puasa datang hingga akhirnya dapat kujajaki satu persatu. Begitu juga dengan satu persatu dengan cerita berbeda di tiap harinya. Dari yang sudah pasti seperti ujian menahan lapar dan haus, uji mental kesabaran melihat anak menangis-merengek ingin ngempeng, atau perut keram dan tegang, aktifnya janin yang lagi hobi nendang-nendang, ditambah dengan aktifnya sang kakak yang sedang giat-giatnya minta dititah. Sedangkan sang bapak sedang asiknya dipenuhi pekerjaan yang membuat rumah menjadi penuh dengan aktivitas. Bagiku, lengkap sudah paripurna ramadhanku. Kesan cinta yang kuiringi didalamnya, akan menjadi doa serta bukti kesetianku pada Rabbku. Karna tahun ini, ramadhan ini, begitu spesial.

Sedangkan anakku kini,
Semakin terlihat tumbuh kembangnya. Seiring dengan berjalannya hari-hari puasa, dia semakin ahli berbagi. Setiap memegang makanan, dia akan membelah makanannya dan dibagikan dengan orang yang ada didekatnya. Atau sekarang saat ada yang menyodorkan tangannya maka dia akan menyambutnya lalu mencium tangannya. Semakin mandiri untuk tidur sendiri, menyaut panggilan, bertepuk tangan, melambaikan tangan, membuka isi tas, mengajak teman sebaya berkomunikasi dengan bahasamu, dan bagiku kemampuan psikologismu benar-benar membuat ibu terhibur. Ibu yakin Alloh memberimu kemampuan lebih untuk lebih dulu dewasa karena takdirmu yang sebentar lagi menjadi kakak.

Sedangkan dirimu akan selalu menjadi kakak yang penyanyang serta penjaga untuk adik-adikmu. Begitu juga kelak adik-adikmu akan kembali memberikan kasih sayang yang lebih serta cintanya sebagai adik untuk kakaknya. Kalian akan menjadi saudara-saudara mukmin yang hebat dan juga bijaksana. Begitulah paripurna cinta yang telah mengikatkan kalian satu persatu.

Dan ramadhanku, sampai jumpa kembali di cerita-cerita berikutnya. Maka selanjutnya akan ada dua malaikat kecil yang akan mem-paripurna-kan hari hariku.

Allohu akbar Allohu akbar walillhil hamdu.
Taqobalallohu minna wa minkum.
Wa ja’alanaa kullu ‘aamin wa antum bikhoirin.

Jombang 15 Juni 2018
02.08 wib

Surau Suara Ramadhan

Di surau,
Ada seorang perempuan dengan segala kekhawatirannya, kesedihannya, kerapuhannya, kelemahannya, menembus penjuru sudut. Suara gemuruh layaknya tangis dan pekikan jerit hati
menyelimuti seluruh dirinya. Basah sudah dalam tubuhnya. Mengingat hari perhari yang telah dilalui setelah ternobatkan menjadi seorang Ibu. Baginya: “aku belum bisa tangguh sebagai Ibu. Mungkin akulah ibu yang buruk. Tak ada kasih dan juga sayang. Tak mengasihi ataupula dikasihi.”

Di Surau Suara,
Tak ada tempat yang mampu mendengar suaraku kecuali di surau ini. Surau langit sendu dan rintikan hujan yang ikut menghamburkan suara-suaraku. Lompatan dan jurang yang kulalui bersama malaikat kecil dan juga pendamping hidup, mungkin apa yang kualami baginya sekadar remeh temeh. Suara tak penting yang harus dibuang jauh-jauh. Sedangkan aku, membiarkan suara ini tenggelam semakin jauh. Berharap ada sesuatu atau bahkan seseorang yang rela menjemput suara-suaraku.

Di Surau Suara Ramadhan,
Maka adanya Ramadhan menjadi tempat suara surauku kali ini. Ratus rindu aduan dan rayuan seharusnya bergelimang disini. Sepertinya itu yang perempuan tersebut butuhkan. Sepertinya itu yang Aku butuhkan. Dengan suara Ramadhan di surau ini, aku hanya ingin kamu menghiburku: menerimaku dan selalu ada disisiku. Abaikan kesibukanmu sejenak, untuk memberikanku hari-hari manja dan menyenangkan bersama suara Ramadhan di surau ini.

Mungkin, begitu seharusnya.
Seandainya saja kamu membacanya.

Lembang, 25 Mei 2018
10.14 wib

Ibu dan malaikatnya

“Bagaimana jika suatu saat nanti, ditengah Aku menyerah?”

“Maksudnya?”

“Ya menyerah menjadi seorang Ibu.”

“Gapapa. Nabi juga ga melarang. Boleh, asal ga lama-lama.”

Seketika sendu membayangkan kehidupan menjadi seorang Ibu yang mungkin kelak akan banyak ragam deru yang menyertai.
“Tenang aja sayang. Kita hadapi dulu yang sekarang ada di hadapan kita. Kita akan jalan bersama.”


Sebulan, duabulan, tigabulan, perlahan aku mengenal apa yang disebut sebagaimana suka dukanya mengurus anak. Dari menyusui, mengganti popok, menimang-nimang, hingga memandikan, masing-masing ada lelah batinnya sendiri. Sampai mungkin di masa aku mampu menstabilkan emosi pikiran dan juga batin, ada kejutan selanjutnya yang Alloh berikan padaku. Kehadiran calon penghuni keempat yang sedang berjuang tumbuh sehat pada semestanya.

Kehamilan kedua.

Kaget? Khawatir? Sudah tentu. Saat itu hanya perasaan campur aduk seorang Ibu yang sama sekali belum pernah punya pengalaman mengurus anaknya hingga besar. Dan kini, Alloh tau bahwa diriku akan diuji kekuatan sabar dan tabah, menjadi seorang ibu yang bijaksana nan penuh kasih sayang. Sulit? Mungkin. Aku belum pernah mencobanya. Masa-masa sekarang di kehamilan trimester 1-2 telah telewati. Dari yang tenaga abis mengurus anak pertama yang sedang senangnya bereksplor hingga tubuh ini yang tidak kuat bahkan untuk sekedar berdiri apalagi menggendong. Atau makan jadi tidak selera hingga tidak sadar bert badan sempat turun 10 kg. Atau pernah juga anak disaat menangis tanpa sebab dan hanya ingin digendong, tapi kubiarkan menangis selama 1 jam. Atau dilema menyusui karena tak lagi dapat mengenyangkan anak dengan ASI, sedangkan anak alergi susu formula sapi. Sedih? Pasti. Tapi apa yang bisa kita keluhkan. Aku yakin malaikat selalu ada disamping kita: anak-anaku, suamiku, dan juga Aku. Justru inilah pernak pernik kehidupan setelah menikah. Kehidupan berumah tangga, kehidupan seorang Ibu yang tetap terus ingin mewujudkan masing-masing dari mimpinya. Menghiasi rumah dengan canda, tawa, harapan, dan doa.
Dan, selagi perutku membesar, ternyata anakku juga cepat sekali tumbuh besar. Nyatanya diriku harus kuat melewati ini semua, dan Alloh pasti tahu bahwa hambaNya mampu.

Bismillah….

Lembang, 6 Mei
06.12 wib

Semesta dan Dunia

Waktu subuh tiba. Usai sholat, karna sakitnya dan rasa penasaran, akhirnya aku dan suamiku pergi ke puskesmas. Setelah dicek bukaan, ternyata masih sudah bukaan 2. Ups, bukan sudah.. mungkin lebih tepatnya masih. Dan itu antara aku yang berlebihan ngungkapin dahsyatnya kontraksi atau aku yang belum paham bagaimana mengendalikan kontraksi itu.

Akhirnya, aku diminta untuk terus berjalan-jalan agar pembukaannya bertambah. Maklum, katanya anak pertama akan membutuhkan bukaan yang lama untuk mencapai waktunya melahirkan. Dua jam berlalu, jalan kaki sepanjang arah puskesmas ternyata cukup melelahkan. Lelah nyeri dan lelah pegel kaki. Dicek lagi, alhamdulillah bertambah jadi bukaan 4 dan sudah mulai keluar flek. Maka diprediksilah bahwa akan lahiran malam hari atau mungkin esok subuh. Sesuai dengan harapan sang bapak, jika malam hari maka akan tepat saat peristiwa gerhana bulan total (7 agustus 2017).
Aku dan barang-barang perlengkapanku kembali ke rumah. Malam itu gerhana bulan terjadi. Dan malam itu pula menjadi malam terpanjang dalam hidupku. Mau tidak mau aku harus tidur, demi tenagaku untuk persalinan nanti. Tapi bagaimana bisa tidur, nyut nyut nyut.. terus saja mendera perutku. Naik turun ranjang, jongkok, dan sujud, kulakukan untuk paling tidak membuang rasa sakitnya. Dan saat sepertiga malam, aku berdoa agar paling tidak aku bisa terlelap meski hanya satu jam. Dan betul, satu jam aku terlelap dan terbangun oleh bunyi letupan air. Pletuk. Tetiba basah semua celanaku hingga kasur. Panik, tentu saja. Terlebih lagi suamiku yang belum pernah melihat istrinya dengan air yang mendadak membasahi seluruh kaki.
Aku pun langsung pergi ke puskesmas. Dicek lagi pembukaan dan masuk 7. Saat ituaku masih bisa nyengir, dan kumanfaatkan untuk telpon ibuku. Ucapan maaf mengalir melalui mulut. Apa yang dirasakan ibuku dulu mungkin bisa melebihi dahsyatnya dibanding apa yang kurasakan sekarang. Yang jelas, aku mulai paham mengapa Alloh begitu memuliakan seorang Ibu. Air itu adalah air ketuban yang merembes. Ternyata ketubanku sudah lebih dulu pecah. Meski masih belum semua lapisannya yang pecah. Katanya, dalam waktu 7 jam sudah harus ada tindak lanjut dan bayi harus keluar. Dianalah puskesmas tidak bisa melayani dan aku pun dirujuk ke rumah sakit. Tanpa basa basi, pukul 9 pagi aku dibawa menggunakan mobil ambulans dan tentu ditemani suami.

Pertama kalinya aku berkendara dengan mobil ambulans. Ngebutnya pengendara begitu juga jalannya yang tidak mendukung, lengkap sudah menemani kontraksiku. Lucunya, mendadak rasa kontraksi hilang seketika saat mendengar suamiku terbatuk-batuk.

“Uhuk uhuk….. hwuek.” Lepas sudah ternyata suamiku mabok perjalanan. Pertama kalinya aku melihat suamiku munah karena mabok. Mungkin karena fisik juga ikutan lelah begadang nemenin istri yang kontraksi plus baru pertama kalinya naik mobil ambulans. Dan di mobil itu juga aku bisa tidur walau sekejap. Efek samping ngebutnya mobil.

Sampai di RS, masuklah ke UGD, sendal pun tertinggal dan menjadi kenangan di mobil ambulans. Di RS masih perlu di observasi sambil menunggu keputusan obgyn yang saat itu sedang melakukan operasi pasien lain. Menunggu hingga pukul 12 siang, mau makan-minum sudah tidak peduli, meski mau tidak mau harus paling tidak minum sesuatu atau memakan sesuatu sebagai tenaga saat melahirkan nanti, begitu katanya.

Obgyn tiba, dan diputuskan agar ketuban harus dipecahkan agar memudahkan jalan keluar bayi. Kemudian diberi induksi sebagai perangsang agar bayi segera keluar, karna jika tidak akan membahayakan bayi. Betul sudah, cerita-cerita yang selama ini kudengan terkait induksi, akhirnya kurasakan sendiri. Meski rasa sakitnya yang membuat kita bisa tidak sadar diri, mengucapkan kata-kata serapah entah bermakna atau tidak, itu semua kita yang memutuskan. Umpatan atau doa, hanya rasa sakit yang mampu menerjemahkannya. Mungkin saat itu, adalah saat dimana kepasrahan jihad seorang ibu yang tetap tangguh berjuang atau menyerah. Jam 2 siang dinduksi, serta dua jam merasakan jeritan induksi. Hingga perlahan mulai terasa ada sesuatu yang benar-benar ingin keluar dari semestanya dan segera melihat dunia. Dunia dimana ibunya berada.
Semua berkumpul dan berdoa. Memberi semangat dan kekuatan hati. “Kamu harus tangguh Zifa, kalau kamu pingin anakmu tangguh, Ibunya juga harus tangguh. Pasti bisa. Itu lihat anakmu sudah tidak sabar bertemu ibunya.”

Dengan kekuatan penuh, dan… bismillah
“Oeee…oeee..ooeeee…”

Tangisan cilik nan pilu, anakku, bayi mungil seirang perempuan cantik dan memesona.
Tes. Air mata terjatuh membasahi pipiku. Semua rasa sakit dan lelah hilang seketika. Alhamdulillah, kini aku tau betapa menjadi seorang Ibu, begitu besar pengorbanannya. Dan aku yakin, ini baru awal. Masih banyak pengorbanan-pengorbanan lainnya yang menunggu.

Menanti Sebuah Kehadiran

Ketika dia hadir, maka kamu akan dihadapi dua pilihan tentang cinta: menguatkanmu atau melemahkanmu.

Hari ini tepat 5 agustus 2017, hari yang seharusnya dirimu hadir menjadi pewarna seisi rumah. Rupa rupi rasa penasaran orang-orang sekitar mulai menyelimuti. “Belum kerasa mules neng?” Begitu kata mereka. Dan aku, yang belum pernah tau bagaimana sensasi melahirkan, tetap tersenyum dan dengan jawaban yang sama,” masih betah di perut ibunya.” Walau sebenarnya ada rasa was-was dalam diriku. Karna aku harus memeriksakan kandungan lebih intensif sebab lewat tanggal hari perkilraan lahiran. Sambil kuelus-elus perutku dan menyapa dirinya,” Nak, kapan mau keluar? Ibu sudah tidak tau kalau periksa usg yang murah dimana lagi. Ketemu Ibu yuk, biar tidak udah mengeluarkan biaya lagi..” aku dan rasa ingin jumpaku seketika merayunya.
6 agustus 2017, minggu malam. Saat itu aku masih asik menemani pengunjung yang sedang menikmati kampanye langit malam. Berbincang panjang bahkan menyempatkan diri menonton serial drama korea.

Tak terasa hingga malam semakin larut. Saat waktu sepertiga malam, tetiba ada tekanan pada perut bagian rahim. Kupikir sakitnya itu hanya karena semalam lupa makan malam. Yah, sakit perut biasa. Namun ternyata sakitnya tak kunjung hilang. Semakin lama semakin terasa nyeri. Saat inilah aku mulai sadar bahwa mungkin beginilah detik-detik menuju melahirkan.
Kuhitung waktu jeda kontraksi, dari satujam sekali, stengah jam sekali, hingga subuh mencapai 5 menit sekali. Tapi aku belum juga flek. Pesan bidan di puskesmas, jika sudah flek baru silakan datang ke puskesmas untuk persiapan melahirkan. Antara sakit dan cemas, aku benar-benar tak mampu menahan rasa sakitnya.
“Oh begini ya yang disebut kontraksi. Dahsyatnya memang ga bisa dibayangin.”

YANG SLALU KUSUKAI UNTUKMU

Nampak sipit bibirmu saat tersenyum
Aroma bajumu semerbak sedikit bau aneh

Ketika kau tertarik pada sesuatu
Kau terlihat seperti anak kecil
Nampak bahagia dengan senyum polosmu

Kau yang slalu berusaha keras
Kau yang ternyata Wonder Woman
Kau yang menghargai persahabatan
Kau yang tak suka sambal pedas
Dan kau yangvterkadang bertingkah aneh

Suara nafasmu saat tertidur
Kau slalu menceritakan kisah aneh
Yang terjadi dalam setiap mimpimu

Bagaimana pun dirimu…
Kau sangat manis budi
Dengan segala hal yang baik darimu
Dan segala hal yang buruk dariku

Aku dengan yang seperti itu
Dan slalu berada di sisimu
Bagaimana pun dirimu Istriku
Aku sangat mencintaimu istriku

Lembang, 9 januari 2018

Lelaki Subuhku

Ada yang mengintip
Itu langit fajar
Ada yang datang
Itu langkah malaikat
Ada yang berkokok
Itu ayam jago
Ada yang bergegas
Itu tetangga sebelah
Ada yang membangunkan
Itu suara mikrofon masjid
Semuanya itu kata aktif
Sedangkan,
Ada yang dibangunkan
Ada yang dibelai
Ada yang dilelapkan
Ada yang diheningkan
Hingga,
Ada yang digoda
Semuanya itu kata pasif
Dan kamu selalu menjadi pasifku
Yang membuatku akan melakukan apapun untukmu
Suamiku, yang selalu kujaga cintamu
Cinta kita, cinta anak kita, dan cinta kepada Rabb kita
Kaulah,
Lelaki Subuhku
Lembang 14 Januari 2018

Teruntuk seluruh Ibu di dunia,

Dari semua jenis pekerjaan yang ada, maka menjadi Ibu adalah pekerjaan yang amat menyenangkan. Senang karena bisa berada di rumah sepuasnya, senang karna bisa memasak dan memakannya- apapun yang diinginkan, senang mengahabiskan kuota midnight, senang ada yang bisa diajak bermain di rumah bersama anaknya, senang melihat senyum dan tawa anaknya yang cerdas.

Tapi dibalik itu semua, adalah tanggung jawab: merapihkan serta membuat rumah nyaman untuk ditempati, masak dan makan makanan sehat demi keluarga atau makan banyak karna tidak mau kalau bayi yang dikandung akan kelaparan atau anak yang disusui merasa tidak nyaman karna susunya tdk lezat hingga pada akhirnya angka timbangan tidak lagi sesuai keinginan, belum lagi dengan menghabiskan kuota demi belajar dan mencari informasi terkait kembang tumbuh anak atau apa yang terbaik buat anak meski sambil begadang di malam hari, sedangkan bermain adalah waktu yang spesial sama spesialnya saat merapihkan ulang barang-barang rumah, dan ketika senyum tawa anak seketika memudar maka kamu mulai murung – khawatir anak sakit.

Barangkali, menjadi Ibu Rumah Tangga terkesan remeh. Meski juga pada akhirnya kamu harus menunda mimpi yang kamu inginkan sejak dulu. Satu hal yang membuat kamu yakin, bahwa Tuhan lebih tau balasan apa yang pantas untuk sebuah pekerjaan yang bernama Ibu. Dan disana ada harapan dan cinta yang terus mengikutinya. Maka bersyukurlah karna diberi kesempatan memiliki dan menjadi seorang Ibu. Tidak ada yang dapat menandingi makna cinta dan bahagianya menjadi dirimu, Ibu.

❤ Mother’s Day 22 Des